"Sesungguhnya pada (penciptaan) langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan ALLAH untuk orang-orang yang beriman"
(Surah Al-Jasiyah ayat 3)
Berkata Saidina Umar Al-Khattab r.a :-
1) Orang yang banyak ketawa itu kurang wibawanya.
2) Orang yang suka menghina orang lain, dia juga kelak akan di hina.
3) Orang yang menyintai akhirat, dunia pasti menyertainya.
4) Barangsiapa menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatannya akan terjaga.
|
Asal usul nenek moyang Minangkabau berawal dari rombongan tentera pengikut Iskandar Zulkarnain yang memisahkan diri dan tidak mau ikut berperang lagi di Macedonia sekitar 125 SM. Mereka yang setelah lelah mengikuti perang bertahun-tahun maka sebagian angkatan perang yang berasal dari yunani, roma dan italia tersebut kembali ke ****lonia melalui lembah sungai Hindustan dan berlayar melalui samudera Hindia. Orang-orang itu tidak sampai ke Roma tapi justru telah terkayuh ke selatan dihanyutkan oleh gelombang dan masuk ke pesisir barat Sumatera melalui Pantai Barus, sebagian lagi diantara mereka terdampar di hulu muar setelah bosan berkayuh mengikuti arus samudera. Sementara Iskandar Zulkarnain mengawini Putri Kida Hindi dan akhirnya meninggal di Hindi (Antara Pakistan dan India) dalam perjalanan darat melanjutkan perangnya ke Italia.
Rombongan terdampar di Pulau Percha (Sumatera) yang mereka beri nama Swarnabhumi sesuai kepercayaan Budha yang mereka anut. Dengan dasar kepercayaan itu juga, dimana Budha memuliakan arah matahari, maka di tempat baru mereka pun mencari tempat yang tinggi sampai ke puncak merapi dan menetap ke arah matahari terbit yaitu di Labuhan Sitimbago. Salah satu keturunan dari rombongan tersebut adalah Suri Dirajo ayah Indo Jalito dan kakeknya bernama Sri Maharaja Diraja merupakan generasi ketiga sebelum tahun 1046 yang tinggal di Pariangan (Padangpanjang sekarang). Boleh jadi mereka adalah turunan generasi pertama yang tinggal di Lagundi Nan Baselo (kaki gunung merapi) sekitar 125 SM.
Indo Jalito kawin dengan Sang Sapurba (Dapunta Hyang) atau juga di kenal dengan Rajo Sangseto Sangkalo yang datang dari Lagundi Nan Baselo tahun 1046 melalui sungai Indragiri dan melalui anak Sungai Kampar dari Bukit Siguntang-Palembang. Sang Sapurba adalah anak raja Hindu Chola India yang melakukan penyerangan ke Sriwijaya sehingga Kerajaan Sriwijaya punah pada tahun 1025. Hasil perkawinannya dengan Indo Jalito melahirkan anak bernama Sutan Paduko Basa atau di gelar Datuak Katumanggungan.
Setelah Sang Sapurba wafat, Indo Jalito kawin dengan Hyang Indo Jati atau Tuan Cati Bilang Pandai dari Pariangan dan mempunyai anak bernama Sutan Balun (Kemudian dikenal dengan nama Datuak Parpatih Nan Sabatang). Sutan Balun-lah yang pertama kali memanggil ibunya Bundo Kanduang ketika menanyakan dimana ayahnya Indo Jati bertapa (sebagai layaknya kaum Buddha zaman dahulu)
Kedua anak Indo Jalito tersebut, kemudian hari menjadi dua tokoh pendiri dua kelarasan adat Minangkabau yakni Kelarasan Koto Piliang dan Kelarasan Bodi Chaniago. Karena itu Bundo Kanduang yang sebenarnya dalam sejarah Minangkabau adalah Indo Jalito yang hidup di Pariangan tahun 1050an. Dari sinilah dapat kita memahami pertemuan dua kepercayaan, antara Indo Jalito yang membawa kepercayaan Buddha yang diwarisi dari leluhurnya hasil perkawinan campuran Yunani-Persia serta bangsa Punjab (yang dilakukan tentara-tentara Iskandar Zulkarnain ketika melakukan petualangan ke perbatasan Cina) dengan Sang Sapurba yang keturunan Raja Chola dari India yang menganut kepercayaan Hindu Tantra Hiyana.
Pengikut kepercayaan Buddha dengan segala perangkatnya membentuk nagari baru (Nagari Pertama) di Pariangan dan berkembang disana, pada akhirnya membentuk Nagari V Kaum dengan paham adat Matrilineal. Salah satu bukti yang mereka bawa adalah seni ukir Budha-Yunani, yang sampai hari ini melekat di setiap rumah adat Minangkabau (yakni seni ukir gulungan dedaunan yang kita kenal “Kaluak paku kacang balimbiang”, yang sebenarnya berasal dari seni Buddha-Yunani).
Sementara Sang Sapurba sebagai raja hindu dan tidak disukai di Pariangan, membuat pula nagari baru (nagari ke-dua) di Sungai Tarab Delapan Batu yang adatnya Beraja-raja (membawa 8 laki-laki dan 8 wanita membuka Taratak yang kemudian menjadi Koto di Sungai Tarab Delapan Batu).
Nagari Sungai Tarab Delapan Batu diwarisi oleh anak Sang Sapurba dengan Indo Jalito iaitu Datuak Katumanggungan dan berkembang ke sungai Hyang (Sungayang). Nagari ini kemudian membentuk Ranah Tanjung Bungo (Ulak Tanjuang Bungo) yang akhirnya kita kenal sekarang menjelma menjadi nagari Pagaruyuang.
Sedangkan Nagari V Kaum diwarisi oleh anak Indo Jalito dengan suaminya Hyang Indo Jati atau Datuak Cati Bilang Pandai iaitu:- 1. Sutan Balun akhirnya bergelar Datuak Parpatiah Nan Sabatang. 2. Mambang Sutan kemudian bergelar Sri Maharaja Nan Sikalap Dunia atau Datuak Nan Banego-nego 3. Puti Reno Mandah atau Mandi 4. Puti Reno Sudi 5. Puti Reno Judah atau Sudah 6. Puti Reno Jalito kemudian dikenal sebagai Puti Reno Jamilan atau Puti Jamilan ( Puti Jamilan inilah yang kemudian menjadi permaisuri Adityawarman, Raja Pagaruyung yang pertama. Adityawarman sendiri bergelar Raja Dewang Palokamo Rajo Indo Deowano)
Adtyawarman dan Puti Jamilan menurunkan raja-raja di Malayu Kampung Dalam (Gudam) Pagaruyung yang di sebut Raja Undang atau Raja Alam.
Puti Reno Sudi menurunkan Datuak Bandaro Kayo dan Datuak Marajo Basa di Pariangan Padangpanjang.
Puti Reno Mandi menurunkan Datuak Bandaro Kuniang di Dusun Tuo, Limo Kaum..
Puti Reno Sudah menurunkan Raja Adat di Balai Janggo dan keturunan Datuak Bandaro Putiah di Sungai Tarab.
Adapun Datuak Katumanggungan, ketika menjadi raja, bersemayam di Pariangan, kemudian di Dusun Tuo. Sesudah itu pindah ke Sungai Tarab. Dengan demikian, selama kekuasaan Datuak Katumanggungan, Sungai Tarab menjadi ibu kota yang ketiga. Nama kerajaan yang di pimpinnya adalah Bunga Setangkai. Nama itu di ambil dari nama tempat asal-usul permaisuri iaitu Puti Samputi yang berasal dari Bungo Setangkai di kawasan puncak Gunung Merapi.
Sebab itulah di dalam adat minangkabau dikenal istilah: “Baradaik ka Pariangan, Barajo ka Pagaruyuang”, karena saat kedatangan Sang Sapurba ke Pariangan tahun 1046 sudah ada adat Minangkabau sementara Kerajaan Pagaruyung belum lagi dibentuk.
Terbentuknya kerajaan Pagaruyung diawali oleh ekspedisi “Pamalayu” ke kerajaan Dhamasraya (Sawahlunto sekarang) untuk memperkuat pengaruh Singosari di Sumatera dalam rangka menghadapi tentara Kublai Khan dari Mongol. Dikirimlah utusan kerajaan Singosari “Mahiso Anabarang” (dalam bahasa jawa artinya Kerbau Besar nan Garang) ke Sumatera dan dia balik ke Jawa dengan membawa Dara Petak dan Dara Jingga anak dari Raja Kerajaan Dhamasraya (lihat sejarah kerajaan Singosari dan Majapahit).
Di Majapahit, Adwayawarman atau Adwayabrahma yaitu seorang pejabat tingkat tinggi berpangkat Rakryan Mahamantri dalam pemerintahan Kertanagara telah bernikah dengan Dara Jingga dan mendapat anak bernama Adityawarman. Adityawarman telah berkawin dengan Puti Jamilan anak Indo Jalito dan kemudiannya beliau menjadi raja kerajaan Minangkabau. Mereka mempunyai 2 orang anak iaitu seorang putra bernama Ananggawarman ( atau di gelar Yang Dipertuan Rajo Baramah/Dewang Baramah Sanggowano yang meneruskan kekuasaan ayahnya sampai tahun 1417) dan seorang puteri bernama Puti Reno Dewi Sanggowani ( yang berkahwin pula dengan Rajo Dianjung iaitu anak Datuk Perpatih Nan Sebatang)
Ananggawarman berkawin dengan Puti Reno Dewi ( anak kepada Datuak Katumanggungan dengan Puti Samputi) mereka dikaruniai tiga anak perempuan iaitu Puti Panjang Rambut, Puti Salaro/Salareh Pinang Masak dan Puti Bungsu. Sejak Ananggawarman wafat tahun 1417 kepemimpinan di Pagaruyuang khususnya jawatan Raja Alam telah dipegang oleh Datuk Bandaro Putih -Tuan Titah IV yang juga bergelar Rajo Bagewang I. Hanya selepas beberapa ketika baharulah jawatan tersebut disandang oleh seorang Raja Alam yang bergelar Yamtuan Rajo Bakilap Alam - Yamtuan Rajo Garo - Rajo Bagewang III - Datuk Bandaro Putiah VII - Daulat Yang Dipertuan Sultan Alif I . Berikut pula adalah penyandang-penyandang jawatan Raja Alam selepas Daulat Yang Dipertuan Sultan Alif I iaitu:
- Daulat Yang DiPertuan Sultan Siput Aladin
- Daulat Yang DiPertuan Paduka Sri Sultan Ahmad Syah Yamtuan Raja Barandangan
- Daulat Yang DiPertuan Sultan Alif ll Sri Baginda Raja Daulat Paduka Sri Sultan Alif Khalifatullah Johan Berdaulat Fil-Alam (Yamtuan Khalif)
- Daulat Yang DiPertuan Raja Bagagarsyah Alam Yamtuan Jombang Daulat Yang Dipertuan Lembang Alam.
- Daulat Yang Dipertuan Raja Bagagar Alamsyah.
- Daulat Yang DiPertuan Sultan Alam Muningsyah (l) - Daulat Yang Dipertuan Sultan Sari Maharajo Dirajo (II) Yang Dipertuan Bawang.
- Daulat Yang DiPertuan Malenggang Alam Yamtuan Rajo Naro (I)
- Daulat Yang DiPertuan Sultan Alam Muningsyah (ll) Yang DiPertuan Sultan Abdul Fatah - Yamtuan Sultan Abdul Jalil (l).
- Daulat Yang Dipertuan Muningsyah (IV) Yamtuan Rajo Naro (II) - Daulat Yang Dipertuan Sultan Hasanuddin Muningsyah.
- Daulat Yang DiPertuan Sultan Tangkal Alam Bagagarsyah Yamtuan Hitam.
Tahun 1804 telah terjadi huru-hara di Tanjuang Barulak, Saruaso dan Pagaruyuang akibat pertentangan kaum adat dan kaum agama dan terbunuhnya Sultan Alam Muningsyah (II) - Yang Dipertuan Sultan Abdul Fatah yang merupakan ayah kepada Sultan Tangkal Alam Bagagarsyah Yamtuan Hitam. Sultan Tangkal Alam Bagagarsyah Yamtuan Hitam menjadi raja terakhir diMinangkabau, wafat dalam pembuangan di Batavia (Jakarta) pada tahun 1849.NOTA: Sila klik pada gambar peta di atas untuk melihat dengan lebih jelas kedudukan Palembang, Jambi, Tanjung Tanah ( Kerinci), Dharmasraya dan Pagaruyung dan aliran-aliran sungai yang terbabit untuk memahami perjalanan sejarah yang berkaitan.  | Persoalannya...siapakah bonda kandung yg pertama?...Puti Indo Jelita..Puti Reno Jamilan.. atau Puti Dara Jingga? hmmmm.... |
 | Ada org pertikaikan Raja Bakilap Alam/Sultan Alif 1 itu dari keturunan org lain/org luar, bukan dari susur galur keturunan Adityawarman. Betul ker andaian ni? |
 | satu perbicangan yg bagus ne
|
 | marisma wrote on Mar 25, '11, edited on Mar 25, '11 Persoalannya...siapakah bonda kandung yg pertama?...Puti Indo Jelita..Puti Reno Jamilan.. atau Puti Dara Jingga? hmmmm....  Bab ni , denai tak dapat nak jawab.. kalu ikut kisah di atas sepertinya Puti Indo Jalito (Puteri Indera Jelita) adalah bondo kandung pertama...wallahualam. |
 | marisma wrote on Mar 25, '11, edited on Mar 25, '11 Ada org pertikaikan Raja Bakilap Alam/Sultan Alif 1 itu dari keturunan org lain/org luar, bukan dari susur galur keturunan Adityawarman. Betul ker andaian ni?  Raja Bakilap Alam @ Sultan Alif 1 masih dari keturunan Adityawarman tapi dari jalur anaknya yang bernama Puti Reno Dewi Sanggowani, bukan dari jalur Ananggawarman. Ikut silah yang di simpan di Balai Janggo/Istana Silinduang bulan peraturannya adalah begini...
- Raja Bakilap Alam/Sultan Alif 1 adalah anak kepada...
- Tuanku Rajo di Buo 3 ( isterinya Puti Reno Suto Dewi ) adalah anak kepada...
- Dewang Sari Megowano Tuanku Rajo Tuo ( isterinya Puti Reno Nalo Nali ) adalah anak kepada...
- Dewang Sari Demowano Tuanku Maharajo Sakti 2 ( isterinya Puti Reno Rani Dewi@Dewi Ranggowani) adalah anak kepada....
- Dewang Pandan Salasiah Banang Raiwano ( isterinya Puti Reno Kumuning Mego@Puti Maharani ) adalah anak kepada...
- Puti Panjang Rambut 2 ( suaminya Hyang Indo Jati dari Sumanik ) adalah anak kepada....
- Dewang Pandan Putowano@Tuanku Maharajo Sati 1 (isterinya Puti Bungsu ) adalah anak kepada....
- Puti Reno Dewi Sanggowani ( suminya Rajo Dianjung anak Datuk Perpatih Nan Sebatang ) adalah anak kepada....
- Adityawarman ( kawin Puti Reno Jalito/Puti Jamilan anak Indo Jalito dgn Cati Bilang Pandai)
wallahualam... |
 | makna bundo kandung tu..apadia...adakah mcam orang n9 kata ibu soko atau ader yg lain2 |
 | indrasati wrote on Mar 30, '11, edited on Mar 30, '11 Jadi Bundo Kandung ini di kenal pasti pertama kali di gunakan semasa zaman sejarah Minanga Tamwan. Nama Minanga Tamwan pula pertama kali di jumpai dalam prasasti Kedukan Bukit iaitu salah satu prasasti pendiri kerajaan Sriwijaya.
Dalam prasasti tu di sebut: "Tahun 683, Dapunta Hyang membawa 20.000 tentara dari Minanga Tamwan dengan penuh sukacita ..." Mengikut ahli sejarah merumuskan bahawa Dapunta Hyang adalah pendiri kerajaan Sriwijaya, yang membawa pasukan dari Minanga Tamwan ka Sumatera Selatan iaitu Palembang, Jambi dan Bengkulu. Sebagian sejarawan berpendapat Minanga Tamwan ini sama dgn Minanga Kamwa atau Minanga Kamba. Minanga Kamba, itu adalah bahasa Sanskrit yang artinya sungai kembar yang merujuk kepada hulu sungai Kampar di wilayah Minangkabau timur.
|
 | hmmmmm....pnjelasan yg bagus dari segi fakta sejarah....yg lain tak der ke...mngkin buleh di kongsi....
|
 | dari yg tertulis tu kita tahu..tapi yg tersirat tu kita payah nak ketahui.... mngkin dahulu bundo kndung itu ader yg tersurat dan tersirat.... kalau di ggle mmg jmpa sprti tuan perkata kan .... kalau dipilh mengikut nasab tu ader benarnya tapi jika bukan yg berhaq bagaimana pula...persoalan...
|
 | kalau berkata bondo kanduang maksud nya itu ajer menjadi persoalan....jika di kaji...dari mana permulaan bndo kandung ..sprti dia atas mengatakan pt indo jolito...jd bagaimana kisah ini mengattakan bundo kandng yg awal adalah pt indo jolito....hmmmmmmmm.....sdng kisah minagkabau ini terlalu rumit dan panjang hingga ramai yg diluar tak dapt menolok akan sejarah minangkabau... |
 | Saya dah semak bb info...Puti Indo Jalito nie boleh di katakan sezaman dgn Puti Dara Jingga...kedua2nya di gelar bundo kanduang... Anak Puti Dara Jingga adalah Adityawarman... Anak Puti Indo Jalito adalah Puti Reno Jamilan@ Puti Reno Indo Jalito.. dan Adityawarman kawin dgn Puti Reno Jamilan... Saya berpendapat bunda kandung masih ada yg lain yg lebih awal lagi dari Puti Indo Jalito dan Puti Dara Jingga.
|
 | ...bundo kanduang yg paling awal sekali...Siti Hawa :) |
 | dah tu mana pulak dtg nya anak raja yg berkahwin dengn wan empuk wan malini yg mendiami di gunung merapi...agak kunfis jgk ne |
 | jadi kerajjaan mana yg terawal sekali terentuk di sumatre.....agak binggung sih |
 | jangan mikir bebanyak...luruh rambut kang jang :)) |
 | tak mikir tapi bertanya...menjadi persoalan dalam benak otak |
 | tapi urang takut nak buka rahsianya... |
 | sebab ber sebab...tapi jika tidak di buka samapi bila harus tertutup...........hmmmmmmmmmm....sbbnya? |
 | orang selalu menafikan sajer |
 | tp apa2 pun saya hanya memeriahkan je blog ne.....jadi ado kesalahan dan soalan dan jawapan bodoh saya tu harap maafkan lah...saye ne buta sejarah ..... dan tak pndai dlm bab hal sejarah lama ne....so pada tuan rumah saya minta maaf bebnayak lah jadi tukang kcau dan tukng sibuk dalm entry tuan ne ................ok terima kasih......... |
 | seronok dan gembira dapat berkenalan dengan semua orang....have a nice life porever...............muahhhhhhhhghhhhhhh............pewittttt........... |
 | 505067 ada masaalah ker ? sejarah ni bukan boleh pakai tangkap muat dan serkap jarang jer...semua mesti ada bahan bukti yang kukuh, baru sesuatu kebenaran boleh di sebarkan kpd pengetahuan umum. Banyak lagi kajian secara saintifik dan di harap ahli2 arkeologi menemui bahan2 bukti lain bagi menyokong apa jua hipotesis mengenai tamadun awal yang ujud di nusantara ini. |
 | saya rasa kita semua yang bagi komen dalam blog ni sama2 memeriahkannya...sama2 kongsi.. saya pun bukannya pandai sangat tetapi sekadar berkongsi apa yg telah para sarjana dan pengkaji dah jumpa. Kalau belum jumpa apa yang di cari atau persoalan yang masih menjadi tanda tanya di harap ada orang2 yang lebih berpengetahuan memberi maklumat dan berkongsi ilmu mereka di sini dari kalangan pembaca yang ada di luar sana. Kita ni pun bukan nya ahli sejarawan atau ahli akademik yang bertauliah....cuma kerana minat yang mendalam tentang sejarah di sumatera ini, ada lah buat sikit2 homework...tu jer. |
 | pantesan orang padang mukanya kyk orang India |
|